Skip to main content

Mengenang Bapak

Mohammad Ali Zakaria, bapak saya, guru dan sahabat. Seorang yang sangat sederhana, perhatian dengan keluarga, dan selalu mengajarkan kepada kami anak-anaknya untuk belajar dan menuntut ilmu. Bapak lahir di Makale, Tana Toraja, sebuah kota kecil 310 km dari Makassar ibu kota propinsi Sulawesi Selatan, pada 14 September 1937. Beliau lulus SD dan SMP di Makale dan menamatkan SMA nya di Makassar. Bapak menyelesaikan kuliahnya di UI Jakarta. Beliau kemudian bekerja sebagai pegawai negeri di Departemen Kesehatan. Bagi saya bapak adalah seorang pegawai negeri yang pejuang.

Ketika kecil kami beternak ayam petelur, sedikit demi sedikit sampai jumlahnya sekitar 500 ekor. Setiap pagi sebelum ia berangkat kerja dan kami belum berangkat sekolah ia mengajari kami memberi makan ayam-ayam itu. Dan siangnya sepulang kerja ia mengajari kami mengambil telurnya. Di awal-awal kami mengantarkan telur-telur ayam itu ke warung-warung dekat rumah setiap pulang sekolah, belakangan orang-orang dari warung itu yg mengambilnya. Uang hasil penjualan telur ini untuk biaya kami sekolah dan membeli buku selama kami SD.

Ketika saya kelas 6 SD, bapak menghentikan kegiatan ini karena saya asthma dan gak sembuh-sembuh. Kata dokter, debu dari merang alas lantai kandang ayam itu yang memicu asthma saya tidak sembuh. Saya tanya bapak kalau bapak menghentikan beternak ayam petelur ini nanti bagaimana kami anak-anaknya bisa beli buku. Dia bilang ibu masih menjahit dan bapak sudah mulai ada uang lebih yg penting saya sehat. Sejak itu asthma saya sembuh.

Bapak mengajarkan saya bermain catur ketika ada pertandingan catur dunia Karpov vs Korchnoi, dia bilang dengan bermain catur kita dilatih untuk berpikir 5-10 langkah ke depan, itu akan berguna untuk saya nanti. Dia juga mengajarkan kami berkebun menanam pisang, kelapa, cabai, dan memelihara anggrek di pekarangan rumah kami. Dia bilang semasa kecilnya berkebun dan bertani adalah pekerjaan anak laki-laki di Toraja ditambah membawa kerbau mandi di sungai Sa'dang dan menunggang kuda.

Bapak seorang altruistik, ia sangat memperhatikan saudara-saudaranya, keponakan-keponakannya, teman-temannya di kantor, bahkan kadang saya bingung karena, ketika kecil kami bukan orang berada walaupun tidak miskin, dia selalu membantu orang yang kesusahan. Tidak terhitung jumlahnya baik saudara atau bukan yang tinggal di rumah kami yang kamarnya hanya 3. Dia bahkan pelan-pelan menambah kamar di rumah kami bukan hanya untuk kami tapi untuk siapa saja yang datang dan tinggal di rumah kami.

Bapak orang yang sangat sederhana, pakaiannya berumur tahunan dan kalau sobek dia meminta ibu saya untuk memperbaikinya. Mobil kantornya Land Rover th 69 yang dia pakai 25 tahun tidak mau diganti. Bapak orang yang sangat tidak perduli dengan hal-hal yang material, dia tidak punya buku tabungan sampai dia pensiun, itupun karena uang pensiun harus ditransfer ke rekening bank. Jangan tanya kartu kredit atau deposito karena dia tidak mengerti. Dia bingung kalau orang bicara ekonomi, dia bilang semuanya akan lebih baik kalau orang hanya belanja sesuai dengan apa yang ada di kantongnya.

Bapak seorang yang sangat percaya kekuasaan Allah dan taat walaupun dia bukan tipe orang yang pintar memberi nasehat agama. Jika tidak sakit bapak selalu berusaha shalat berjamaah ke Masjid terutama shubuh, maghrib dan isya. Bapak seorang yang hangat, orang akan merasa kehilangan jika ia tidak datang ke masjid, ke warung korannya Mughni di dekat rumah atau jalan pagi di sekitar taman komplek.















Di akhir-akhir hidupnya dari 5 bersaudara sayalah anaknya yang paling dekat. Pekerjaan kakak saya mengharuskan dia keliling dunia dan Indonesia. Adik saya sejak 2001 bekerja untuk Airbus di Augsburg Jerman. Adik saya yang lain seorang dokter yang sedang pendidikan spesialis di RSCM dan kerjanya menuntut dia untuk selalu di RS. Adik saya yang paling kecil seorang dokter juga dan bertugas di Makassar.

Saya adalah teman ngobrol bapak, dia selalu menceritakan apa yang ada dalam pikirannya ke saya setiap pagi dan malam. Dia sangat terbuka kepada saya dan saya tahu dia bahagia dengan kondisi itu. Dia bangga dengan kakak saya seorang insinyur elektro yang kerjanya keliling dunia dan Indonesia. Dia sangat bangga dengan adik saya seorang engineer desainer pesawat di Airbus, dia juga sangat bangga dengan adik saya yang akan jadi dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam. Tapi walaupun dia tidak pernah bilang bahwa dia bangga dengan saya, saya tahu dia menganggap saya adalah anak yang paling bisa diandalkan. Perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

Bapak mengajarkan saya untuk menjadi orang yang siap membantu siapa saja tanpa pamrih, mengajarkan saya menjadi orang yang sederhana dan menyayangi keluarga.

Bapak pernah bilang, kalau dia bisa meminta cara untuk mati, maka dia ingin dipanggil oleh Allah dengan cara yang mulia dan tidak merepotkan orang lain. Allah mengabulkan doanya. Jum'at 16 November 2012 / 2 Muharram 1434H di Jakarta Allah memanggilnya dan dengan wajah tersenyum Bapak menyambutnya. Bahkan pohon-pohon dan tanaman kesayangannya di samping rumah malam ini rebah untuk menghormatinya. Selamat jalan pak, saya tahu Bapak bahagia di tempat yang terbaik. Innalillaahii wa inna ilaihi rojiun.

Comments

Popular posts from this blog

Remarkable Year 2018 for openSUSE Indonesia Community

Year 2018 is a remarkable year for the Indonesian openSUSE community. There are quite a lot of our achievements as a community that make us proud. As a long time person in this community, I feel that there are quite a lot of young people who can be role models for future generations. Even though the dominance of "you again" cannot be denied, because the same people are also activists in BlankON, LibreOfficeID, Glib, and other communities, it does not reduce my admiration for their militancy towards the spread of FOSS use in Indonesia.



One of openSUSE community friend once said to me, the first step is the most difficult. When I started using Linux in 1997 no one used it at my workplace. I have been using Unix for about 2 years and it happens that many GNU software is also used on both operating systems so the commands are not so weird for me. But it is very difficult to find people to have direct discussion at that time. At present the obstacles that I felt before seemed to b…

In Search of Manohara

Notes:
I always write note in my laptop and put it somewhere either on disk or cloud when I think there is an interesting experience. I found this 7 years old note when I try to clear some space in my disk, and before I wipe it out from my disk I think it is an interesting story to share with you. This happened in 2011, at that time I was working to build Linux based computer labs for 500 elementary and junior high schools in Yogyakarta Indonesia. No it is not about computer and other geeky stuff. So here it is. 

Well, it is very out of topic everyone, you've already been warned 😁

During my busy weeks in implementing openSUSE Li-f-e for schools in Yogyakarta Indonesia (see the pictures below), me and one of my colleague use our free time in a Sunday afternoon to visit Borobudur, the biggest Buddhist temple in the world. One of the World Heritage preserve by Unesco. 85% of Indonesia population are Moslem and this make Indonesia the biggest Moslem country in the world. We are tolerant…

openSUSE.Asia Summit 2017

openSUSE.Asia Summit 2017 was held at University of Electro Communication (UEC) Chofu Tokyo on October 20-22, 2017. Japan is an advance developed country. Tokyo is a big city that can be compared with other major big cities in the world. While it is not the first time for me to go to Tokyo, I was so excited when the committee approved my talk, and openSUSE, as always, give me TSP to come to the event.


During the preparation we have  online meeting every week since February 15, 2017. I was so happy to help the preparation of this yearly openSUSE Summit for Asia Region. Indonesia community also contribute to provide the online voting for the logo contest this year through the voting site.

On the midnight on October 17, 2017 together with my friend Estu Fardani, I went to Tokyo.

It was 7 hours long flight. While almost half of the flight was so bumpy because the initiation of Lan Cyclone, in the morning of October 18, 2017 I enjoyed the clear sky with the golden hour in Japan air around…